Filsafat Pendidikan
Hakikat Manusia
Dalam rangka survive manusia mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga manusia melakukan berbagai cara. Sesungguhnya hakikat manusia adalah mahluk yang bertanggung jawab atas tindakannya dan manusia diberi naluri. Naluri adalah semacam dorongan alamiah dari dalam diri manusia untuk memikirkan serta menyatakan suatu tindakan. Naluri ini tidak setiap waktu muncul yang baik tetapi kadang muncul naluri kejahatan. Namun pada hakikatnya atas tindakan kebaikan maupun kejahatan manusia memiliki tanggung jawab.
a. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Individu.
Langeveld juga mengatakan bahwa tiap individu mempunyai dorongan untuk mandiri, meskipun di sisi lain pada diri anak terdapat rasa tidak berdaya sehingga ia memerlukan bimbingan dari orang lain. Untuk dapat menolong dirinya sendiri, anak (individu) perlu mendapatkan pengalaman di dalam pengembangan konsep, prinsip, inisiatif, kreativitas, tanggung jawab, dan keterampilannya.
b. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial.
Manusia sejak lahir dikaruniai potensi sosialis, artinya setiap individu mempunyai kemungkinan untuk bergaul, yang di dalamnya ada kesediaan untuk memberi dan menerima. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkannya seorang diri Melalui pendidikan dapat dikembangkan antara aspek individual dan aspek sosial manusia, artinya individulitas manusia dapat dikembangkan dengan belajar dari orang lain. Dikatakan oleh Imanuel Kant (filosof Jerman) bahwa manusia hanya menjadi manusia jika berada di antara manusia.
c. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Susila.
Melalui pendidikan diusahakan agar individu menjadi dua pendukung norma kaidah dan nilai – nilai susila yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dan menjadi milik pribadi yang tercermin dalam tingkah laku sehari-hari. Penghayatan dan perwujudan norma, nilai, dan kaidah-aidah sosial adalah sangat penting dalam rangka menciptakan ketertiban dan stabilitas kehidupan masyarakat.
d. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Beragama.
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang beragama. Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manussia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. Untuk itu, ia dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya dengan sebaik-baiknya melalui pendidikan. Dalam hal ini orang tualah yang paling cocok sebagai pendidik karena pendidikan agama adalah persoalan afektif dan kata hati. Oleh karena itu harus dimulai sedini mungkin. Pemerintah dengan berlandaskan pada UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) memasukkan pendidikan agama di sekolah- sekolah merupakan pengkajian aghama yang telah ditingkatkan pada pengembangannya.
Baca selengkapnya di https://nie07independent.wordpress.com/hakikat-manusia/
Bisa juga dalam video ini ;



0 komentar: